Kamis, 28 Februari 2008
Penyakit berbahaya
Dewasa ini semakin banyak kekosongan yang dibiarkan atau disengaja terjadi atau melakukan hal-hal yang sia-sia, kosong. Ada yang berusaha memperbaiki kerusakan, ada pula yang buru-buru mengisi kekosongan dengan kekosongan baru, ibarat membersihkan kotoran dengan sapu kotor. “Semakin rumit teka teki dijawab”, kata orang bijak. Rusak, dan kerusakan akibat penyakit bernama "Kekosongan" diantaranya :
• Kekosongan perasaan kemanusiaan, mengakibatkan timbulnya banyak tindak kejahatan.
• Kekosongan kegiatan positif/menarik, diganti dengan kegiatan yang merusak, maksiat, dan tidak bermanfaat.
• Kekosongan jiwa kemasyarakatan, menjadi kurangnya kepedulian terhadap sesama dan lingkungan, rusaknya pergaulan dan ekosistem lingkungan.
• Kekosongan harapan, cita-cita yang bermotif membangun, mudah dimasuki anasir-anasir distruktif.
• Kekosongan ajaran agama, akhirnya membuat agama – agama baru yang tidak ada landasan syariat tapi berlandaskan nafsu dan kepentingan pribadi dan golongan.
Apalagi bila miliu dan nasib membantu kekosongan waktu, pengangguran kerja, maka yang paling duluan dipengaruhi, menjadi objek dan korbannya adalah anak-anak muda. Musuh-musuh kemanusiaan sibuk "merusak, tetapi mengaku membangun". (Merusak orang membangun diri, menyusahkan orang mengenakkan diri, menyalahkan orang membenarkan diri, menyengsarakan orang menyelamatkan diri).
Orang rusak dan perusak dunia tetap akan bergerak, beraksi dengan motif, semboyan “Bagaimana caranya agar aku, keluargaku, golonganku, aku – aku yang lainnya enak meskipun pihak lain sengsara”, karena kekosongan.
Bagaimana bila menyikapinya dengan KEPUTUS ASAAN, alih profesi (hijroh) atau menonaktifkan potensinya? Putus asa/hijrah profesi positif adalah hak setiap orang, sedangkan putus asa lari dari tanggung jawab apalagi membunuh masadepan dengan kekosongan atau bunuh diri adalah kekerdilan dan sikap protes terhadap TAQDIR. mengingkari kekuasaan, kekuatan Allah SWT, Sang Pencipta, tidak menghasilkan apa-apa dan tidak menguntungkan siapa-siapa. ALLAH mengkatogorikan mereka kedalam golongan orang KAFIR.
Bila ada trik-trik dalam sebuah usaha membentuk organisasi dan apa saja, janganlah dijadikan arena/kesempatan saling salah menyalahkan situasi akibat kekosongan “massal”, tetapi pelajarilah prestasi, motivasi, tujuan, dan sumberdaya manusianya.
Sebab-sebab munculnya organisasi pergerakan dan sebagainya itu relatif dan beragam, diantaranya:
• Kekosongan beberapa unsur dalam masyarakat dan menimbulkan kepincangan- kepincangan.
• Kebodohan akan hak-hak yang terambil oleh pihak lain.
• Kepicikan dan kelemahan da'i dalam berda’wah.
• Ketergesa-gesaan, keterburu-buruan dalam menentukan langkah.
• Memburu keduniaan yang semu.
Semaraknya simbul atau syi’ar Islam tanpa tegaknya syari’at hanya kekosongan dan kekeroposan ( ÃÌæÝ, ÌæÝÇÁ), tapi perlu disadari juga tegaknya syari’at tanpa syi’ar akan terasa kering (ÌÇÝø ). Kekosongan dalam kehidupan Islami harus diisi! Kalau tidak syetan-syetan jua yang mengisi, dan manusia menjadi budak-budaknya. Na’udzubillaah!
Anak-anak kita sekarang terbagi menjadi dua, pertama; disibukkan oleh sesuatu yang seharusnya tidak menyibukkan, tertarik asyik dengan kegiatan yang tidak perlu diasyikkan. kedua; tidak cerdas, tidak cakap dan akhirnya tidak benar dalam mengisi kekosongan.
Pandai-pandailah menghemat waktu, tenaga/ kesehatan, uang, untuk hal-hal yang berguna. Jangan memanjakan kekosongan.
Jumat, 22 Februari 2008
Seorang pemimpin di abad ini
Empat belas abad yang lalu yang menjadi Presiden adalah Umar Bin Khattab. Suatu ketika putra kesayangannya yang bernama Abdullah Bin Umar datang menemuinya hendak menyampaikan ide hendak beternak kambing...
Umar hanya terdiam kemudian berkata : Aku khawatir jika kambingmu antri di sumur hendak minum...orang- orang akan berkata : dahulukan kambing anak presiden...Ketika kambingmu hendak dijual ke pasar...orang- orang akan berkata berkata : belilah kambing dari anak presiden " AKU TAKUT KETIKA AKU BERTEMU ORANG-ORANG YANG MEMBANTU BISNISMU...RASA SAYANGKU SEBAGAI AYAH MENGALAHKAN RASA ADIL SEORANG PRESIDEN "
Saya tidak tahu apakah orang-orang yang saat ini memimpin (termasuk yang berasal dari partai yang menjual agama setiap kampanye) memahami makna hal ini atau mereka memiliki pemahaman yang berbeda.
Pemimpin di zaman sekarang tidak jauh beda dengan penjual di pasaran, mereka menjual janji-janji bahkan diobral begitu saja, akankah mereka bisa menepati semua janji-janji tersebut. Kekuasaanlah yang membuat mereka rela menjual segala pernak pernik kehidupan, mulai dari harga dirinya hingga pada agamanya. Haus kekuasaan merupakan jalan rusak menuju pemimpin yang rusak, bisakan anda menemukan sosok pemimpin seperti Umar bin Khattab di zaman ini?, saya bilang masih ada pemimpin seperti beliau, tapi gunjingan cercaan selalu akan menyerang pemimpin yang seperti ini dari segala arah. Seorang pemimpin yang berani dan taat selalu akan diuji dengan tiga Ta : harta, tahta, dan wanita.