Empat belas abad yang lalu yang menjadi Presiden adalah Umar Bin Khattab. Suatu ketika putra kesayangannya yang bernama Abdullah Bin Umar datang menemuinya hendak menyampaikan ide hendak beternak kambing...
Umar hanya terdiam kemudian berkata : Aku khawatir jika kambingmu antri di sumur hendak minum...orang- orang akan berkata : dahulukan kambing anak presiden...Ketika kambingmu hendak dijual ke pasar...orang- orang akan berkata berkata : belilah kambing dari anak presiden " AKU TAKUT KETIKA AKU BERTEMU ORANG-ORANG YANG MEMBANTU BISNISMU...RASA SAYANGKU SEBAGAI AYAH MENGALAHKAN RASA ADIL SEORANG PRESIDEN "
Saya tidak tahu apakah orang-orang yang saat ini memimpin (termasuk yang berasal dari partai yang menjual agama setiap kampanye) memahami makna hal ini atau mereka memiliki pemahaman yang berbeda.
Pemimpin di zaman sekarang tidak jauh beda dengan penjual di pasaran, mereka menjual janji-janji bahkan diobral begitu saja, akankah mereka bisa menepati semua janji-janji tersebut. Kekuasaanlah yang membuat mereka rela menjual segala pernak pernik kehidupan, mulai dari harga dirinya hingga pada agamanya. Haus kekuasaan merupakan jalan rusak menuju pemimpin yang rusak, bisakan anda menemukan sosok pemimpin seperti Umar bin Khattab di zaman ini?, saya bilang masih ada pemimpin seperti beliau, tapi gunjingan cercaan selalu akan menyerang pemimpin yang seperti ini dari segala arah. Seorang pemimpin yang berani dan taat selalu akan diuji dengan tiga Ta : harta, tahta, dan wanita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar